Senin, Oktober 31, 2011

engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku..

Tiba-tiba saja ingin membaca kembali kalimat-kalimat indahnya, terutama saat ia bertutur :

".......Tentu saja saat itu kau punya banyak pilihan
dan aku sama sekali tak masuk hitungan
aku bukan lelaki yang jika kau lihat membuatmu serasa menatap malaikat
juga bukan pria yang jika diajak bicara, membuatmu merasa ada dan berharga

dan, sulit kubayangkan apa yang ada dalam benakmu, terlebih ayah ibumu
ketika di acara khithbah –setelah rombongan keluargaku tersesat
empat jam menyusuri peta buta, ditambah tiga jam berputar sana sini-
kukatakan pada keluarga besarmu, “urusan saya adalah segera menikah
tak jadi soal besar dengan siapa. jika tak kami dapat mertua di sini,
insya Allah akan kami cari di perjalanan pulang nanti.”

aku tahu, aku terlihat tak waras dan tak tahu malu dengan kekata itu
tapi hebatnya kau memahamiku, dan tertakjub aku
karena kau bisa meyakinkan walimu, bahkan wangsamu
hm, ternyata kita memang sejiwa, seakan ketika melirikmu sekilas
hatiku berkirim pesan, “aku bukannya tak sabar. hanya tak ingin menanti.
karena ketegasan macam ini adalah juga kesabaran –juga kesiapan diusir pulang.-
karena bagiku, dalam penantian, ada lebih banyak celah syaithan.”

-aku sadar, sejak peristiwa itu kau mulai mengenalku, dan
menyiapkan diri untuk kelaknya banyak-banyak menyabariku-

aku lalu tahu bahwa kau agak pemarah
tapi aku suka itu; karena marahmu selalu di atas alasan jitu
dan lagi kau tak seganas ‘aisyah yang membanting piring
ketika suaminya sedang menjamu tamu-tamu yang terbelalak lalu haru
kau juga tak sampai mengatai suami, “kau ini hanya mengaku-aku nabi!”
separah-parahnya yang kurasakan hanya tak kau bukakan pintu
jadinya seperti ‘ali ketika dimarahi fathimah, lalu tidur berselimut debu
dan ketika itulah dia mendapat panggilan cinta dari mertua: abu turab

dan lebih dari itu kau memintaku menjadikanmu khadijahku
itu artinya kau akan meneladaninya; misalnya dengan tak bertanya
ketika kau lihat beban menekuk mukaku, menggontaikan tubuhku
lalu kau mempersilakanku berbaring bukan di kamarmu, menyelimutiku
karena begitulah yang dilakukan khadijah ketika suaminya ditimbuni risalah
tapi menjadikanmu khadijah artinya juga;
takkan ada selain dirimu, sebelum Allah memanggilmu
soal yang ini doakan aku kuat; dan aku tak pernah berdoa agar terjadi cepat-cepat

tapi bertahun bersamamu cinta, ada banyak yang tak bisa diungkap dengan kata
ringkasnya begini: engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku..."

------------------------------------------------------------------------------------

Ah,
membaca kembali goresan pena sang kekasih hati,
sungguh meluapkan rasa,
mengharu rindu..

Terima kasih Sayang..
Selalu saja, kalimatmu mampu menyihir jiwaku..
Pun Engkau bagiku,
penyejuk kalbu, pemupuk rindu,
pembunuh ragu..
Moga cinta kita senantiasa dalam ridha-Nya
Meng-abadi,
hingga kelak di Jannah-Nya..

Dwi Indah Ratnawati (Dinda Hareefonsa/ Indah Nursalim)
-- www.dinda-hafsa.blogspot.c
om --

.

Jumat, Mei 20, 2011

Selamat Jalan Bunda..

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Sampai detik ini, tak usai kami terkagum dan terkenang dengan keshalihan dan kemuliaanmu. Bagi kami, seolah engkau simbol keshalihan, ketakwaan dan kecerdasan seorang mujahidah dakwah, murabbiyah, ibu, dan sahabat perempuan di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Karena tak kami pungkiri, keteladan yang telah engkau torehkan seringkali menjadi penyemangat kami untuk bangkit, saat futur iman hendak menghampiri.

Kini, Allah telah memanggilmu untuk berada di sisiNya. Seluruh ummat Islam seolah tak rela melepas kepergianmu. Dan memang, haru & kehilangan terasa menggelayuti langkah kami.. Namun kami yakin, Allah begitu mencintai & merindukanmu, hingga tak sabar menanti hadirmu disisi-Nya, untuk menempati surgaNya nan mulia yang telah disediakanNya untukmu sesuai kemuliaan yang telah kau ukir selama di dunia. Pun kami yakin, saat ini engkau tengah tersenyum bahagia disamping Rabbmu, meski harus meninggalkan kami yang sedang tertatih membangun dan menegakkan Kalimatullah di muka bumi ini, di tengah gempuran fitnah dan segala mihnah dakwah. Na'am, Ustadzah.. Kami yakin Allah akan memenangkan perjuangan kita. InsyaAllah.. (QS. 61: 8-13)

Meski engkau telah pergi meninggalkan dunia ini karena memenuhi panggilan Rabbmu, namun bara semangat serta keshalihan, dan ke-bersahajaan-mu akan tetap tinggal di hati kami. Semoga kami bisa mewarisi semangat juangmu, untuk tegar di jalan dakwah ini demi menebar benih kebaikan di muka bumi, meninggikan Kalimat Allah dan Rasul-Nya yang mulia.

Selamat jalan, Ustadzah Yoyoh..

Selamat jalan, Bunda..

Kami mencintaimu karenaNya..

Kelak, insyaAllah kamipun akan menyusulmu..

Maka, tunggulah kami di surgaNya..


With Love,

Dwi Indah Ratnawati /Indah Nursalim (Dinda Hareefonsa) -- www.dinda-hafsa.blogspot.com --

Jumat, Januari 22, 2010

Rindu Menulis

At Ta’beer huwa al-mir ah lee ‘isyqi al-‘aasyeeq“. Menulis bagi seorang perindu adalah ruang mendefinisikan kerinduannya. Kalimat yang ditulis besar dengan warna tinta biru, menghias dinding tepat di atas meja belajar Ameena. Kalimat yang menyemangati Ameena untuk selalu menjadi perindu yang dapat mendefinisikan kerinduannya dengan selalu menulis, menulis dan menulis.

Bagi Ameena aktivitas menulis adalah kebutuhan utama untuk nutrisi akal, jiwa dan hatinya secara bersamaan. Menulis menjadi aktivitas yang harus dia lakukan setiap hari. Satu jam dia luangkan dari dua puluh empat jam yang dimilikinya. Hanya satu jam. Menulis catatan-catatan penting, catatan perjalanan, catatan hikmah yang ditemuinya berserakan dalam jenaknya, catatan rasa sedih, gembira dan catatan kegundahannya setiap ketimpangan sosial yang dilihat dan didengarnya terjadi di sekitarnya, dan catatan apapun yang terlintas dalam ruang pikirnya adalah catatan yang mewarnai setiap halaman dari buku diarinya. Menariknya lagi buku diarinya yang tidak terhitung jumlahnya itu menjadi barang bawaan wajib baginya, setiap keluarga besarnya membawanya berpindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Aktifitas menulis catatan harian baginya adalah kenikmatan sekaligus pemenuhan kebutuhan mengekspresikan dirinya.

Setiap kali liburan berakhir Ameena membawa beberapa buku diarinya ke asrama, meminta saya dan beberapa teman yang lain untuk membacanya. Sebuah tulisan dengan bahasa Arab fushhah, dan di tulis dengan sastra yang tinggi. Saya yang masih bau kencur dalam bahasa Arab, sungguh tidak banyak mengerti dan paham dengan catatan yang dia tulis. Dengan ditemani kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, saya coba mengeja dan mencerna makna indah yang Ameena susun menjadi kalimat-kalimat yang bernas, nyaris tidak ada diksi yang sia-sia untuk mengungkap dan menjelaskan pandangannya.

“Mengapa tidak coba kamu kirim ke penerbit? Agar lebih banyak orang yang mendapat kemanfaatan dari apa yang kamu tulis.” Suatu kali Sarah menyarankan Ameena untuk mengirim catatan-catatan hariannya tersebut ke penerbit.

“Catatan-catatan ini bukan untuk diterbitkan, catatan-catatan ini saya buat untuk konsumsi saya, keluarga, teman, dan orang-orang yang mengenal saya saja. Kalau nantinya catatan-catatan ini Allah ridloi sebagai tulisan yang pantas untuk dibaca semua orang, saya yakin suatu saat tulisan ini menjadi warisan yang saya tinggalkan untuk generasi setelah saya” Jawab Ameena panjang lebar menjelaskan maksud keberatannya untuk menyerahkan catatan hariannya kepada penerbit.

Kebiasaan Ameena dalam menulis catatan hariannya menjadikannya sangat mudah untuk menulis dengan cepat. Sehingga saya dan teman-teman yang lain dalam satu flat menjadikannya tempat bertanya dan tempat akhir untuk mengoreksi tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Terkadang ketika kami buntu dan tidak terpikir ide untuk tulisan kami, meminta pandangan Ameena adalah solusi yang kami ambil, dan dengan cepat juga Ameena memberikan pandangannya dengan jelas lengkap dengan kerangka yang kemudian membantu kami untuk menuliskan tugas-tugas kami.

Suatu saat saya dan beberapa teman beraktivitas di penerbitan buletin ‘Isyroq’. Sebuah buletin yang kami terbitkan satu bulan satu kali. Setiap mendekati masa deadline dan masih ada rubrik yang kosong, spontan kami mencari Ameena dan meminta darinya untuk menuliskan artikel yang sesuai dengan tema yang kami ambil pada masa penerbitan tersebut. Tidak lebih dari satu jam tulisan tersebut kemudian Ameena serahkan ke meja redaksi kami. Luar biasa. Kami selalu menggelengkan kepala dengan kecepatanya dalam menampilkan pelbagai mutiara yang dimiliki dirinya dalam bentuk tulisan. Akhirnya kami mendaulatnya menjadi salah satu konstributor dalam rubrik khusus yang kami sediakan untuknya. Rubrik tersebut kemudian menjadi rubrik yang digemari dan selalu ditunggu oleh para pembaca.

“Hanya satu yang kita butuhkan dalam menulis” Suatu hari Ameena menjawab pertanyaan saya mengenai rahasia semangat yang dimilikinya untuk menjadikan menulis adalah kebutuhan yang harus dia penuhi, sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum.

“Apa itu?”

“Semangat perindu untuk bertemu dengan orang yang dirindukannya. Dengan kata lain teruslah menulis sampai kamu bertemu dengan orang yang kamu rindukan” jawabnya kemudian.

“Kalau sudah ketemu dengan orang yang kita rindukan?”

“Kerinduan yang kumaksud adalah kerinduan yang tidak pendek, namun kerinduan yang dapat melintasi ruang dan waktu”

“Wah kerinduan yang bagaimana ya yang seperti kerinduan itu? apa ada?”

“Ada. Kerinduan bertemu dengan Allah adalah kerinduan yang kumaksud” Sebuah kerinduan jangka panjang yang telah menjadikan Ameena tidak berhenti menulis, menulis, dan menulis.

Saya sekarang merindukan semangatmu dalam menulis, wahai Ameena. Gumam saya dalam hati, setelah mengetahui rahasia semangatnya dalam aktifitas menulisnya. Memburu buku-buku motivasi, bergabung dengan beberapa milis kepenulisan dan belajar dari cerita-cerita sukses para penulis besar, adalah cara yang kemudian saya tempuh untuk memburu semangat seperti semangat yang Ameena miliki.


(Disalin dari sebuah tulisan di eramuslim.com, dengan judul asli "Saya Merindukan Semangat Perindu" Oleh TaQ Shams)


Dwi Indah Ratnawati (Dinda Hareefonsa/ Indah Nursalim)
-- www.dinda-hafsa.blogspot.c
om --


Share it